Fenomena ChatGPT dan Gambar AI Bergaya Studio Ghibli: Inovasi atau Ancaman bagi Dunia Seni?

 

Fenomena ChatGPT dan Gambar AI Bergaya Studio Ghibli Inovasi atau Ancaman bagi Dunia Seni

EKSEMPLAR.COM - Gambar-gambar buatan kecerdasan buatan (AI) bergaya Studio Ghibli kini marak beredar di media sosial, termasuk di Indonesia. 

Fenomena ini muncul setelah OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, meluncurkan fitur terbaru yang memungkinkan pengguna menghasilkan gambar dalam berbagai gaya, termasuk gaya khas Studio Ghibli. Tren ini pun memantik perdebatan terkait hak cipta dan masa depan seni digital.

ChatGPT Meluncurkan Fitur Gambar AI Bergaya Studio Ghibli

OpenAI baru-baru ini mengintegrasikan generator gambar AI ke dalam ChatGPT-4o. 

Fitur ini memungkinkan pengguna menciptakan berbagai ilustrasi dengan gaya yang dapat disesuaikan, termasuk fotografi dan animasi. 

Sejak fitur ini dirilis, gambar-gambar bergaya Ghibli mulai viral di media sosial, menarik perhatian berbagai kalangan.

CEO OpenAI, Sam Altman, menjadi salah satu orang pertama yang memanfaatkan fitur ini. 

Ia membagikan gambar dirinya dalam gaya anime Studio Ghibli di platform X (sebelumnya Twitter). 

Hal ini semakin mempopulerkan tren tersebut, bahkan tokoh-tokoh besar seperti Elon Musk ikut serta dalam fenomena ini dengan membagikan gambar AI dirinya dalam versi animasi.

Perdebatan Hak Cipta dan Masa Depan Seni Digital

Meski fitur baru ini menuai antusiasme, ada kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap industri seni. 

Banyak seniman berpendapat bahwa penggunaan AI untuk menciptakan gambar dalam gaya tertentu dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta. 

Studio Ghibli sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait tren ini, tetapi beberapa seniman dan pengamat hukum di dunia telah menyoroti potensi pelanggaran hak kekayaan intelektual.

Di Amerika Serikat, lebih dari 400 artis Hollywood, termasuk Ben Stiller dan Paul McCartney, telah melaporkan OpenAI dan Google atas dugaan penggunaan karya seni tanpa izin. 

Kasus ini menjadi preseden penting dalam perdebatan tentang hak cipta di era AI.

Di Indonesia, tren ini juga memicu perdebatan sengit. Beberapa pengguna media sosial mengkritik penggunaan ChatGPT untuk membuat gambar bergaya Studio Ghibli, menganggapnya sebagai bentuk eksploitasi karya seni. 

Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa AI hanya merupakan alat yang mempermudah kreativitas, bukan pengganti seniman asli.

Reaksi Hayao Miyazaki Terhadap AI

Sutradara legendaris Studio Ghibli, Hayao Miyazaki, pernah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penggunaan AI dalam animasi. 

Dalam dokumenter Never-Ending Man: Hayao Miyazaki, ia menyatakan bahwa ia "benar-benar merasa jijik" terhadap teknologi AI yang digunakan untuk membuat animasi.

Miyazaki menambahkan bahwa teknologi tersebut tidak memahami esensi seni dan kehidupan, serta dapat mengancam nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi dalam dunia animasi tradisional. 

Pandangannya ini semakin memperkuat perdebatan mengenai apakah AI benar-benar membawa manfaat atau justru merugikan industri kreatif.

Masa Depan Seni di Era AI

Dengan perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, dunia seni menghadapi tantangan besar. 

OpenAI sendiri mengklaim bahwa mereka berupaya menyesuaikan kebijakan agar penggunaan AI tetap dalam batasan etika yang dapat diterima. 

Namun, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama terkait perlindungan hak cipta bagi para seniman.

Apakah AI seperti ChatGPT akan menjadi alat revolusioner yang membantu seniman, atau justru ancaman bagi kreativitas manusia? 

Jawabannya masih menjadi perdebatan panjang di kalangan seniman, ahli hukum, dan pengembang teknologi.

Bagaimana menurut Anda? Apakah penggunaan AI dalam seni adalah inovasi yang positif, atau ancaman bagi para kreator asli?***

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url